Cahaya Peradaban

Cahaya Peradaban Sebuah Gerakan moral untuk mewujudkan Tatar Banten menuju Darussalam. BANTEN DARUSSALAM.

Ialah sebuah gerakan yang mendorong agar setiap kegiatan (pendidikan, sosial, politik, hankam, budaya dll) di wolayah Banten dipersiapkan secara kreatif menuju ke satu tujuan Darussalam yang Islami.

27/10/2019

Hidup itu sebuah catatan. Maka selagi masih hidup
mari kita "tulisi" hidup kita dengan catatan
yang selalu baik.

"Kalau ingin menguasai orang bodoh maka bungkuslah yang batil dengan kemasan agama"Ibnu Rushdi, ilmuwan Muslim dari Anda...
19/02/2019

"Kalau ingin menguasai orang bodoh maka bungkuslah yang batil dengan kemasan agama"

Ibnu Rushdi, ilmuwan Muslim dari Andalusia.

25/11/2018

Ajining diri iku
dumunung ana ing lathi
lan pakarti.

04/11/2018

Ajining diri dumunung ana ing lathi (Jawa) - harga diri seseorang terletak di lisannya.

04/12/2017

Dzuriyat Kramat Tajug konsisten menjaga marwah Tb. Muhammad Atief putra ke 6 Sulthan Ageng Tyrtayasa

Inilah media kita, Indonesia Smile. Insyaallah bilingual. Edisi ini adalah soft launching untuk menyambut Festival Kerat...
11/11/2017

Inilah media kita, Indonesia Smile. Insyaallah bilingual. Edisi ini adalah soft launching untuk menyambut Festival Keraton Surosowan Banten. Mohon doanya.

09/11/2017

mengungkap Kejayaan Kesulthanan Banten

06/09/2017

Untuk Isteriku

Surat yang kutulis tiga puluh satu tahun lalu,
dan kukirim lewat angin,
bertulis aksara yang berhamburan.
dari bilik yang tempias aku merapal doa
dengan sujud yang seadanya.

Tapi kini suratku itu tiba-tiba bertutur
tentang lembah dan mimpi
hingga kau menjadi tulang rusukku yang kuat
menguatkan nyalaku, nyala kita
melintasi tidur yang sering terjaga.
Menjadi tanah yang menguatkan rindu
untuk selalu p**ang ke rumah.

Aku semakin tahu, lautan melingkupi hidupmu,
hidup kita,
lewat doa-doa yang sering merambati tebing.

Tapi kita selalu punya lembah,
kita punya mimpi.

28/08/2017

Guru Honor 7

Bulan merdeka kali ini saya kok merasa semakin tidak merdeka berada di ruang guru, lebih nyaman dan merasa merdeka apabila setiap istirahat berada di kelas seni, tempat saya mengajar seharian yang sepi selepas siswa rehat. Ah, terlalu banyak yang saya dengar dari sejawat tentang ulah penguasa sekolah yang menempatkan saudara, sepupu, keponakan di posisi guru dan tata laksana sekolah dengan take home pay yang melebihi ukuran dibanding para guru honor. Mereka orang baru itu menempati posisi strategis yang konon terkait dengan keuangan - tapi ya sudahlah itu bukan urusan saya; hanya telinga sering risih.

Menurut Ki Hajar Dewantara, manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya, tentu saja dalam bingkai edukatif, bermoral, karena ini adalah institusi pendidikan yang harus mengajarkan adab. Sementara pengembangan manusia melalui pendidikan menuntut pengembangan semua daya secara seimbang dan adil. Maka paradoks yang terjadi nyaris di seluruh sekolah republik ini menurut saya sudah sangat mengkhawatirkan, akan menodai moral pendidikan itu sendiri karena para orang tua siswa pasti tahu kemana gerangan penggunaan SPP itu. Nilai apa lagi yang akan di adopsi oleh anak didik selain carut marut dan contoh yang tak layak secara moral?

“Pak, kita orang lama ini mending minta pindah ke Tata Usaha saja supaya take home pay lumayan gede” kelakar salah satu guru yang puluhan tahun mengajar dan masih tetap berstatus honorer. Meng-iyakan guyonan pahit itu nalar dan hati saya semakin sedih karena jumlah lumayan yang disebut sebetulnya masih sangat jauh dibawah UMR.

Di running text televisi swasta malam ini terbaca bahwa PNS pasti akan menerima gaji ke 13. Duh, kembali saya ditarik kedalam pusaran ikhlas melawan ketimpangan. Guru honor yang setiap bulan menerima tunjangan nasakom (nasib satu koma) belum pernah ada ceritanya menerima gaji ke tiga belas, wong tunjangan hari raya saja hanya sejumlah tiga ratus ribu rupiah kok?! Tapi ya itulah satu dari banyak ujian ikhlas yang selalu memeluk guru honor.

Saya jadi ingat sebuah puisi Apip Mustofa : Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan | Lewat perut anak-anak yang kelaparan | Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan | Lewat semayup suara adzan | Tuhan telah mengguruimu dengan cukup menahan kesabaran | Lewat gempa bumi yang berguncang | Deru angin yang meraung kencang | Hujan dan banjir yang melintang pukang | adakah kau dengar?

Ikhlas memang menjadi menu sehari-hari kami para guru honor namun saya ingin selalu membalik logika - bersyukur diijinkan olehNya berada di posisi ujian ini, karena keindahan bernyanyi tanpa ada telinga yang mendengar, karena kedamaian merebak pada rengkuhan guru terhadap siswa. Simak puisi Pablo Neruda ini : “Dari segala kebenaran yang mungkin, mereka memilih hari itu; mereka menggenggamnya, bukan dengan tali tapi dengan satu aroma. Mereka tidak merobek kedamaian, tidak p**a meremukkan kata-kata, kebahagiaan mereka adalah menara yang tembus pandang”.

Ah, hari merdeka malam ini kian larut dan kopi harus ditambah lagi. Tabik!

01/07/2017

GURU HONOR 6

Tulisan tentang sequel Guru Honor ini nyaris tak berlanjut karena beberapa hal yang sesungguhnya berujung kepada kemalasan setiap orang. Namun ada juga faktor malas karena kesadaran bahwa tulisan tak akan pernah menyelesaikan persoalan - karena memang hidup ini tidak pernah selesai dengan persoalan.

Tulisan ini masih dimulai dengan hujan yang nyaris tiga tahun membocori genteng rumah yang tak pernah berujung sehingga menyisakan lubang hitam ketika sedang berbaring menunggu isteri menyiapkan sahur. Hujan juga telah menjadi gugusan planet yang kami huni, menciumi kami, memeluk akrab hingga berakar menjalar - hujan menjadi senyawa yang terkadang memancing rasa gusar. Namun hujan juga memberi jawaban kasihMu karena selepasnya akan turun bianglala yang melayang di ruang lembab menyihir cinta kami yang kian erat; kendati sementara. Segala keindahan, kepiluan, kekeringan - apapun yang saya jalani sebagai manusia lantas luruh oleh hujan. Maafkan hamba apabila tempias bocor sering menjadikanku gusar Ya Rab!

Ngabuburit Puasa kali ini seringkali saya isi dengan membuat mural di sekolah bersama dengan anak - anak murid yang berminat karena target pribadi ingin segera selesai pada tahun ajaran baru. Seperti biasa aku dan siswa selalu belajar tidak berharap dengan segala hal yang terkait dengan nominal, honor atau upah, sepanjang kebutuhan cat dan peralatan tersedia. Disitulah pembelajaran kami bahwa “budaya” itu sesungguhnya akan membedakan hidup seseorang; terutama siswa - siswa yang akan meneruskan masa depan negara ini.
“Urip iku ora perlu dipikir nanging lakonana wae”. Kalimat yang nampak sederhana itu dibisikkan Eyang ketika saya mulai masuk SMP dan selalu menjadi kicau merdu tanpa burung, desah semak belukar pada lereng gunung yang memantul di langit rindu lautan. Kalimat yang sederhana namun sungguh “dalam” yang pada sore ngabuburit itu saya bedah bersama dengan beberapa siswa. Hidup itu tidak perlu dipikir - maka didalamnya terkandung penyerahan diri, kepercayaan atas Rahman dan RahimNya. Kesetiaan untuk tetap menerima apapun yang terjadi dan yang kita lakukan dengan tanpa pamrih. Bukankah semua hal yang terjadi di dunia ini atas ijinNya? Sedangkan Allah tidak pernah salah! Sedangkan Allah Maha Adil, Maha kaya, Maha mencukupkan; segala perbuatan kerja pasti tidak akan sia - sia. “Lakonana wae” - jalani saja! Langkah itu yang membuat setiap kita harus mempunyai kesamaptaan untuk menjalani hidup dibarengi dengan selalu belajar, kreatif, berani, merancang tindakan & timing yang dirasa benar. Sesudahnya? Tidak usah berharap pamrih, tidak usah dipikir karena kita harus selalu percaya kepada hukumNya, kehendakNya, keadilanNya.

Siang sebelum bercengkerama ngabuburit tadi saya ke kantor sekolah karena menerima honor bulanan yang sejumlah Nasakom ditambah dengan THR lembaran merah tiga helai plus beberapa botol sirup dan aneka penganan. Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan rejekiMu, kau berikan cintaMu kepada ruh - ruh yang tulus menghuni tubuh. Kadang cinta menampakkan diri sebagai hijaunya daun, seperti gairah yang mengalun di hamparan ladang panjang, seperti layar perahu para petualang yang tak bersua arah p**ang, menjadi kepak sayap malaikat yang menyembunyikan siang dan malam. Berserah kepadaMu seperti ayahku pada siang hari karena malam adalah ibuku yang mengurai diri.

Ayyuhhalwalad, lihatlah! Hujan malam ini mengurai buih - buih di lautan, bersenandung diatap rumahku seperti di atas hamparan permadani ombak. Dari yang satu berbilang makna penyerahan, dari yang berbilang kembali hakikat kepada yang satu. Taqobbalallahu minna waminkum, mohon maaf saudaraku untuk yang pantas kau maafkan. Tabik!

negeri pasir berkabut 172017

28/06/2017

Hujan Ramadhan

Kami anak, ibu bapak seperti tulang rusuk,
yang meliuk basah di hujan Ramadhan,
mengetuk pintu selepas Maghrib menggenangi tikar,
angin memainkan rapuh genting rumah
tapi tak mematahkan dzikir-dzikir pada tiang gelugu

Kami anak, ibu, berenang diam memeras sunyi
berapa lama hingga, seribu bulan atau sepanjang diam
atas hujan
pada ujung malam Lebaran kami bersembunyi
berdekapan dalam bau hujan, kekasih

Setiap bulan adalah Ramadhan
yang menyala temaram
dzikir yang kelu bergumam
di gempitanya takbir
kukeringkan baju dan sajadah
satu-satunya
semuanya dingin
kelu . . .

Bersabarlah
Bulan depan masih Lebaran Nak!

Juni2017.

Address

Tangerang
15341CISAUK,KABUPATENTANGERANG,BANTEN

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cahaya Peradaban posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Cahaya Peradaban:

Share