01/07/2017
GURU HONOR 6
Tulisan tentang sequel Guru Honor ini nyaris tak berlanjut karena beberapa hal yang sesungguhnya berujung kepada kemalasan setiap orang. Namun ada juga faktor malas karena kesadaran bahwa tulisan tak akan pernah menyelesaikan persoalan - karena memang hidup ini tidak pernah selesai dengan persoalan.
Tulisan ini masih dimulai dengan hujan yang nyaris tiga tahun membocori genteng rumah yang tak pernah berujung sehingga menyisakan lubang hitam ketika sedang berbaring menunggu isteri menyiapkan sahur. Hujan juga telah menjadi gugusan planet yang kami huni, menciumi kami, memeluk akrab hingga berakar menjalar - hujan menjadi senyawa yang terkadang memancing rasa gusar. Namun hujan juga memberi jawaban kasihMu karena selepasnya akan turun bianglala yang melayang di ruang lembab menyihir cinta kami yang kian erat; kendati sementara. Segala keindahan, kepiluan, kekeringan - apapun yang saya jalani sebagai manusia lantas luruh oleh hujan. Maafkan hamba apabila tempias bocor sering menjadikanku gusar Ya Rab!
Ngabuburit Puasa kali ini seringkali saya isi dengan membuat mural di sekolah bersama dengan anak - anak murid yang berminat karena target pribadi ingin segera selesai pada tahun ajaran baru. Seperti biasa aku dan siswa selalu belajar tidak berharap dengan segala hal yang terkait dengan nominal, honor atau upah, sepanjang kebutuhan cat dan peralatan tersedia. Disitulah pembelajaran kami bahwa “budaya” itu sesungguhnya akan membedakan hidup seseorang; terutama siswa - siswa yang akan meneruskan masa depan negara ini.
“Urip iku ora perlu dipikir nanging lakonana wae”. Kalimat yang nampak sederhana itu dibisikkan Eyang ketika saya mulai masuk SMP dan selalu menjadi kicau merdu tanpa burung, desah semak belukar pada lereng gunung yang memantul di langit rindu lautan. Kalimat yang sederhana namun sungguh “dalam” yang pada sore ngabuburit itu saya bedah bersama dengan beberapa siswa. Hidup itu tidak perlu dipikir - maka didalamnya terkandung penyerahan diri, kepercayaan atas Rahman dan RahimNya. Kesetiaan untuk tetap menerima apapun yang terjadi dan yang kita lakukan dengan tanpa pamrih. Bukankah semua hal yang terjadi di dunia ini atas ijinNya? Sedangkan Allah tidak pernah salah! Sedangkan Allah Maha Adil, Maha kaya, Maha mencukupkan; segala perbuatan kerja pasti tidak akan sia - sia. “Lakonana wae” - jalani saja! Langkah itu yang membuat setiap kita harus mempunyai kesamaptaan untuk menjalani hidup dibarengi dengan selalu belajar, kreatif, berani, merancang tindakan & timing yang dirasa benar. Sesudahnya? Tidak usah berharap pamrih, tidak usah dipikir karena kita harus selalu percaya kepada hukumNya, kehendakNya, keadilanNya.
Siang sebelum bercengkerama ngabuburit tadi saya ke kantor sekolah karena menerima honor bulanan yang sejumlah Nasakom ditambah dengan THR lembaran merah tiga helai plus beberapa botol sirup dan aneka penganan. Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan rejekiMu, kau berikan cintaMu kepada ruh - ruh yang tulus menghuni tubuh. Kadang cinta menampakkan diri sebagai hijaunya daun, seperti gairah yang mengalun di hamparan ladang panjang, seperti layar perahu para petualang yang tak bersua arah p**ang, menjadi kepak sayap malaikat yang menyembunyikan siang dan malam. Berserah kepadaMu seperti ayahku pada siang hari karena malam adalah ibuku yang mengurai diri.
Ayyuhhalwalad, lihatlah! Hujan malam ini mengurai buih - buih di lautan, bersenandung diatap rumahku seperti di atas hamparan permadani ombak. Dari yang satu berbilang makna penyerahan, dari yang berbilang kembali hakikat kepada yang satu. Taqobbalallahu minna waminkum, mohon maaf saudaraku untuk yang pantas kau maafkan. Tabik!
negeri pasir berkabut 172017