Jazz Gunung adalah konsep paling unik dalam perhelatan jazz yang pernah ada di Indonesia, dan mungkin juga di dunia. Sebagai perbandingan, dua festival jazz di Indonesia seperti JakJazz dan Java Jazz diadakan di pusat kota besar yaitu Jakarta. Peristiwa musik sejenis hampir semuanya digelar di kota dengan lansekap kultur masyarakat urban. Dari sisi landscape, Jazz Gunung menawarkan kelebihan terse
ndiri yaitu pemandangan alam gunung, dalam hal ini atmosfer alam atau suasana Kawasan Gunung Bromo. Jazz Gunung digelar di alam terbuka. Alam Bromo berikut kondisi sosio-kultural di sekitarnya bukan sekadar menjadi backdrop, atau latar belakang yang bersifat pelengkap. Kawasan Bromo -Tengger – Semeru justru menjadi panggung hidup. Ia menyatu dengan seluruh manusia yang terlibat dalam aktivitas tersebut termasuk musisi dan pengunjung. Alam Bromo dan Pegunungan Tengger dengan segenap warga dan tradisi di sekitarnya menjadi spirit utama yang menaungi pemusik dan pengunjung. Angin, udara sejuk, hawa segar, aroma rumput, embun, awan, langit biru, satwa, dan tentu saja Gunung Bromo itu sendiri, menjadi bagian tak terpisahkan dari presentasi seniman. Mereka menjadi bagian dari musik itu sendiri. Alam menjadi orkestrasi indah. Ini merupakan totalitas jazz dan alam. Jazz Gunung adalah jazz yang meruang. Jazz Gunung bukan jazz yang terkurung dalam sekat fisik atau berupa megahnya gedung . Bromo dengan demikian menjadi pemain jazz maha agung. Seluruh unsur alam itu menjadi energi dan inspirasi yang menggerakkan seniman untuk bermusik. Venue atau tempat pergelaran musik semacam itu belum pernah ada di Indonesia. Kawasan Bromo sebagai locus menjadi kekuatan yang luar biasa. Pengunjung tidak saja mendapat pengalaman auditif dari musik, akan tetapi lebih jauh mereka mengenal secara lebih intens alam Bromo. Memori auditif dan pengalaman visual itu diharapkan menjadi penyadaran untuk mencintai alam, memelihara dan menjaga Bromo. Pada gilirannya langkah-langkah itu akan mengundang lebih banyak orang untuk datang ke Bromo. Selanjutnya Jazz Gunung akan memberi nilai ekonomi pada masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
”Tetesan ekonomi itu akan sampai ke masyarakat di kawasan Bromo,” kata Sigit Pramono sebagai salah seorang penggagas Jazz Gunung selain seniman serba bisa Butet Kartaredjasa dan seniman musik Djaduk Ferianto.