16/03/2015
MAHASISWA DAN DINAMIKA PERJUANGAN
Nyaris terlintas sebuah harapan besar terhadap apa yang telah terjadi ketika semuanya hendak luluh lanta menjadi sebuah kisah yang tragis penuh dengan pilu keharuan yang sempat membuat kita terjatuh, namun hal itu pada akhirnya akan terbantahkan dengan seiring berjalannya waktu dan keinginan untuk melakukan arah gerak dengan jelas.
Berbicara tentang arah gerak akan selalu terkait dengan “cadangan masa depan” yaitu objek pertama adalah mahasiswa, yang artinya dimana seseorang harus mampu menjadi pelaku utama dalam menjalankan peranan yang diembannya, ketika kita sudah sadar akan peranan tersebut “maka jangan pernah memilih untuk tidak bisa melangkah kedepannya akan seperti apa?? “tetapi kita harus mampu menjadi sebuah regenerasi yang penuh dengan intelektualitas, intergritas diri dalam management control sosial mencakup luas maka hal tersebut akan senantiasa membawa kita pada satu perubahan, satu keyakinan terhadap moralitas bangsa yang saat ini hampir punah dalam realita hidup sesungguhnya.
Berkaca pada sejarah mengenai dinamika perjuangan tentulah menjadi sebuah kriteria yang harus kita penuhi sebagai agent of change yang artinya sebagai agen perubahan dimana kita harus mampu menganalisa sejauh mana kemampuan kita untuk melegalitaskan nilai-nilai kejujuran, kebudayaan dan sebagainya, ketika kita sudah mampu melakukan hal tersebut maka kita jangan pernah sekalipun puas dengan apa yang kita dapatkan justru hal itu seharusnya dijadikan sebuah cambukan keras bagi regenerasi saat ini agar tidak terlena dengan realita kehidupan di zaman modernisasi yang kejam, mengupas setiap batin dan arogansi yang sedang menggebu-gebu dalam setiap insan yang merasa tertindas.
Sejarah pernah berkata’’ Ketika Peristiwa Bandung Lautan Api itu terjadi bukan hanya di kota Bandung semata, namun Jabar pun ikut terseret akan letusan pertempuran-pertempuran dengan sekutu dan NICA yang saat itu gembor dimana-mana. Bahkan di kota Sukabumi pun terjadi serangkaian pertempuran yang tidak terhelakan pada bulan Desember 1945 hingga berjalan sampai bulan Maret 1946 yang di kenal sebagai ‘’Peristiwa Bojong Kokosan’’.
Maka hal itu yang membuat saya termotivasi menulis sebuah artikel peranan mahasiswa serta dinamika perjuangan yang saat ini mungkin bisa menjadi referensi kawan-kawan untuk bisa senantiasa mengamalkan, membangun loyalitas bersama ketika kita terbangun dan terjatuh untuk memperjuangkan apa yang seharusnya kita bidik dari sekarang kemudian saya berkata ‘’jangan mengeluh tetap semangat kita mahasiswa apapun rintangan akan kita terpa dengan senang hati menggunakan pisau analisa yang membentuk polarisasi pemikirin ideal’’.
Ketika kita terjatuh jangan pernah takut untuk terluka.
Ketika kita terbangun jangan pernah takut untuk terjatuh.
Ketika kita berusaha bangkit jangan pernah takut untuk terjatuh kembali.
Sukabumi, Selasa 10-03-2015
Penulis,
Ditha Sastian