24/02/2026
Puasa Perut Itu Biasa, Puasa Lisan Itu Istimewa
Seringkali kita merasa telah menang melawan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita merasa hebat karena sanggup menahan tenggorokan yang kering dan perut yang melilit. Namun, sadarkah kita? Ada satu pintu yang seringkali bocor dan menggugurkan seluruh pahala lelah kita: Lisan yang tak berpuasa dari ghibah.
Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. Mengapa? Karena sementara perutnya kosong dari makanan, lisannya justru sibuk 'memakan' daging saudaranya sendiri melalui gunjingan, gosip, dan celaan.
Puasa yang sejati adalah Puasa Jawarikh (anggota tubuh).
Saat perut berpuasa, lisan pun harus ikut berpuasa dari dusta.
Saat mata menahan pandangan, telinga pun harus tuli dari aib orang lain.
Hakekat ibadah puasa adalah melatih kendali diri. Jika kita masih sanggup membicarakan kekurangan orang lain di saat kita sedang memegang tasbih, maka ada yang salah dengan orientasi ibadah kita. Ghibah adalah perontok pahala yang paling halus. Ia datang lewat obrolan santai, namun dampaknya menghanguskan amal kebaikan laksana api melahap kayu bakar.
Mari kita jaga kesucian puasa ini. Biarlah lisan kita hanya sibuk dengan dua hal: menyebut asma Allah atau diam dengan penuh perenungan. Sebab, orang yang berpuasa akan tetap terhitung dalam pahala ibadah sepanjang ia mampu menjaga kehormatan saudaranya dan tidak mengotori hatinya dengan kebencian.
Semoga puasa kita bukan sekadar perpindahan jam makan, tapi sebuah perjalanan menuju kesucian jiwa yang sesungguhnya. Amin.
Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Jama'ah Al Khidmah Kabupaten Ponorogo
🙏🙏🙏