ngofa nyili papua

ngofa nyili papua mengangkat&mengenalkan keragaman&keserasian sejarah&budaya Papua,seram&tidore yg prnah tertata dlm Kesultanan Tidore.

PANGERAN NUKU DAN KESATRIA SANGA (CANGA)Di Galela masyarakat mengenal Sultan Nuku bukan sebagai Sultan atau Pangeran bel...
19/04/2025

PANGERAN NUKU DAN KESATRIA SANGA (CANGA)

Di Galela masyarakat mengenal Sultan Nuku bukan sebagai Sultan atau Pangeran beliau dikenal sebagai Kapita Baikoleke. Hal ini tuturkan dalam tradisi lisan masyarakat.

Kenapa orang Galela mengambarkan Sultan Nuku sebagai Kapita Baikoleke (baikole) karena beliau datang ke Galela memakai pakian berwarna hitam dan bersarau (tuala) berwarna putih serta diikuti oleh burung baikole yang terbang di atas kepalanya. Akibatnya orang Galela mempercayai bahwa burung Baikole adalah burung sakral yang diistilahkan sebagai "Jin Maderu" yang berarti burung yang melayani Jin atau melayani orang yang kebal.

Sultan Nuku (1797-1805) adalah satu dari lima putra Sultan Muhammad Jamaluddin dari Tidore (1756-1780). Sekalipun nama resminya adalah Muhammad Amiruddin, namun pihak VOC dan Inggris dalam dokumen-dokumen mereka lebih banyak menggunakan nama panggilan sehari-harinya, yaitu Nuku.

Sejak meninggalkan Tidore 14 Juli 1780 untuk memulai suatu rangkaian perlawanan yang berlansung sampai 1797, para pejabat VOC mencatat dalam berbagai laporan mereka, bahwa ia dikenal di antara para pengikutnya sebagai "Kaicili Paparangan" (pangeran perang) (Leirissa 1990:207).

Masa sulit Pangeran Nuku adalah Ketika Sultan Kamaludin diangkat sebagai Sultan Tidore (1784-1797). Berkurangnya dukungan Gamrange secara bertahap, dukungan ini tetap pudar selama lima tahun. Dibawah komando Sultan Kamaludin, sebuah armada gabungan Tidore, Maba, Weda dan Patani berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Nuku di Salawati pada 26 Februari 1789. Raja Misool Bagus, Raja Waigama Massan dan sejumlah pemimpin Salawati menyerah kepada Sultan Kamaluddin. Pada 1790 sebagian besar kelompok Gamrange dan Raja Ampat tidak lagi mendukung Pangeran Nuku. Titik balik dukungan Gamrange dan Papua ini berkaitan dengan kesuksesan Sultan Kamaluddin dan Belanda dalam menekan dan mencuci otak mereka bahwa perjuangan pangeran Nuku sia-sia. Pangeran Nuku harus menemukan Alternatif lain untuk membangun kembali pasukannya.

Pada 1791, setelah mengalami situasi sulit selama lebih dari lima tahun. Pangeran Nuku mampuh memulihkan sebagian pasukannya. Dilaporkan bahwa seorang saudaranya yang nama tidak dikenal menyerang Seram bagian utara dan selatan menggunakan dua armada penjarah. Sementara itu, Pangeran Nuku sendiri berlayar ke Hote di Seram timur laut bersama sebuah armada berkekuatan 80 kapal dari Tobelo, Galela, Maba, Weda, Patani dan Gebe untuk menunggu armada dari Gorom dan lainnya dari daerah Seram timur guna melancarkan serangan yang direncanakan terhadap Sawai dan Manipa. Tujuh kapal lain bergabung antara Manipa dan Buru pada 28 Agustus 1791. Para pendatang baru di armada Pangeran Nuku adalah orang-orang dari Galela,Tobelo dan Tobaru. Dukungan dari para subjek Ternate di Halmahera Utara yang berada dibawah perintah Gamkonora cukup menentukan karena pesisir tenggra Halmahera, Gamrange dan semua orang Papua dari Raja Ampat, kecuali Salawati, kini memilih untuk kembali berkumpul di belakang Pangeran Nuku (Widjojo 2013:193-294).

Di tahun yang sama Pangeran Nuku juga mejaling persahabatan dengan orang-orang Mangindano yang dikenal sebagai bajak laut atas keterlibatan mereka dengan para bajak laut dari Tobelo-Galela. Utusan Pengeran Nuku ke Mangindano adalah Hukum Umar, yang kemudian berhasil menggalang hubungan dengan Mangindano di Tolitoli yang dipimpin oleh Syarif Muhammad Taha hubungan itu disepakati dengan suatu perjanjian jika Pangeran Nuku berhasil menjadi Sultan di Tidore maka anak Syarih Muhammad Taha yaitu Syarif Usman akan berdagang dipulau Tidore. Ketika VOC di Ternate mendengar informasi atas kerja sama Pangeran Nuku dan para bajak laut Mangindano, pada 1792 VOC di Ternate mencoba mendekati para penguasa di Mindanao dengan maksud memberi kesempatan berdagang secara legal di Maluku Utara pada orang-orang Mangindano. VOC berhasil membuat perjanjian dengan Raja Malurang dari Mindano namun ternyata tidak membuahkan hasil ketika VOC mengundang Raja Malurang datang ke Ternate untuk mendatangani perjanjian itu Raja Malurang tidak pernah muncul (Leirissa 1990:211-212).

Para pemimpin Gamrange, Seram Timur dan Tidore membantu membangun persekutuan dengan penduduk Tobelo, Galela dan Tobaru. Pada 1792 dilaporkan bahwa sebuah persekutuan baru telah dibuat Gamrange dengan Tobelo. Alferis Hasan dari Tidore meneruskan informasi bahwa sebuah paduakang merapat di Morotai membawa lima orang Seram Timur ditambah sejumlah orang dari Maba dan Patani. Mereka kabarnya terlibat pertukaran simbolis dengan delapan penduduk Tobelo-tia yang berada di Kao. Para pemimpin Seram Timur dan Gamrange menyampaikan hadiah berupa dua ekor merpati, sebilah pedang dan sebuah lembing kepada putri Kapiten Laut Tobelo Afir. Pada peristiwa ini, seorang Tidore bernama Sarjeti Haruna dan seorang pria dari Marieko bernama Madiru juga hadir di atas dua kapal kecil bersama 10 awak. Setelah pertukaran hadiah, 40 kora-kora disiapkan untuk melakukan ekspedisi penjarahan ke Manado. Kronologi peristiwa mengungkapkan bagaimana sebuah persekutuan baru dibuat. Pertukaran hadiah dan perkawinan adalah dua instrumen yang digunakan sebagai "Lisensi" antara kelompok-kelompok yang terlibat. Kehadiran seorang pejabat Tidore bisa juga melegitimasi persekutuan baru yang mengindikasikan dukungan baru bagi perjuangan Pangeran Nuku di kalangan penduduk Halmahera Utara.

Tidak semua upaya untuk mendorong penduduk Halmahera Utara bergabung dalam pasukan Pangeran Nuku mendapatkan tanggapan positif. Sejumlah pemimpin dan penduduk memilih tetap setia kepada Sultan Ternate. Pada1792 dua orang biasa dari Tobelo memberitahu Alferis Hassan bahwa saudara Sangaji Maba ada di atas kora-kora yang diawaki sejumlah rekan sebangsanya dan orang Kao telah gagal menyakinkan penduduk di daerah Tobelo pergi ke Morotai untuk "membuat sagu" istilah lain untuk pergi menjarah. Sekali lagi, pada tahun yang sama, beberapa orang Seram Timur bergabung bersama para pemimpin dari Galela dan Tobaru kembali ke Wosi menggunakan kora-kora untuk melakukan serangan penjarahan gabungan, tetapi Hatibi Galela Baharun menolak karena ia tidak menerima perintah dari Sultan Ternate. Pada kesempatan berbeda, lima kapal dari Maba mendarat di pantai Gane. Para penjarah menawarkan persahabatan dan kerjasama untuk bertempur melawan "musuh"bersama, tetapi Sangaji Gane menolak tawaran tersebut karena ia tidak menerima perintah dari Sultan Ternate.

Secara umum, kampanye Pangeran Nuku untuk memenangkan dukungan dari penduduk Tobelo, Tobaru dan Galela cukup efektif, semakin banyak orang Tobelo, Tobaru dan Galela yang terlibat dalam aksi-aksi serangan penjarahan. Pada Oktober 1792 seorang pria Sula, Hamisi, melaporkan bahwa 10 kora-kora dari Tobelo dibawah komando Kapiten Laut Kitabi dan Colu telah menghancurkan desa, termasuk rumahnya, di Pulau Taliabu. Beberapa orang terbunuh dan lainnya dibawah paksa. Delapan kora-kora dari armada Tobelo kemudian berlayar ke pesisir Sulu sementara dua lainnya tetap berada didekat Taliabu. Pada Oktober 1792 sebuah armada Sultan Tidore dibawah komando Letnan Abdul Habu dan Letnan Soseba Abdullah berlayar ke Weda, menjemput Pengeran Mayor Hassan di Tidore. Di Maba, para utusan mendapat informasi bahwa sebuah kora-kora milik penduduk Galela dan Tobaru telah merapat di Wosi dan Gane untuk mencari perbekalan berupa sagu mentah dan air. Para penduduk pun dipaksa menyediakan 20 tong sagu. Setelah merampas sebuah perahu kecil dan membunuh dua orang dari Gane, mereka pergi ke Gane Agung.

Seorang Makassar bernama Rasit yang berada di Negeri Jerongo di Gane pada oktober 1792 juga melihat sebuah armada berkekuatan 10 kora-kora yang diawaki orang Alifuru dari Tobelo, sembilan kora-kora yang diawaki orang Papua dan satu kora-kora yang diawaki orang dari Hatuwe. Rasit dan kawan-kawannya disergap para penyerang ketika sedang menebang rotan di pantai. Satu paduakang milik rekannya direbut. Anakoda dan para budak telah melarikan diri ke hutan. Setelah itu, Negeri Gane dibumihanguskan, 68 penduduknya dibunuh atau ditangkap. Di antara para tawanan terdapat dua orang anak, ibu dan saudara-saudara Sangaji Gane. Setelah serangan terhadap Gane, orang Tobelo dan para penyerang lainnya melanjutkan pelayaran ke Sungai Widi, sementara orang Papua berlayar ke Buton.

Antara Juli dan Agustus 1793 seorang pedagang Cina bernama Kwee Tenie membeli tawanan Buton bernama Kapita dari seorang Alifuru dari daerah Tobelo bernama Wali. Kelak diketahui bahwa Kapita adalah putra Raja di Matam di Selat Buton. Para penjarah dari Maba, Weda dan Patani di atas sebuah armada berkekuatan tujuh kora-kora menyerang dan menangkap mereka ketika Kwee Tenie berserta enam orang lainnya sedang menangkap ikan di Pulau Siampo. Setelah ia diangkut ke Seram Timur, Kwee Tenie dan teman-temannya melarikan diri ke Obi. Sayang sekali, mereka kembali jatuh ke tangan para penjarah dari Tobelo. Ia tidak tahu di mana teman-temannya berada. Nantinya diketahui bahwa dua orang temannya dirawat oleh Sultan Ternate. Tiga orang Buton lainnya diserahkan kepada Gubernur Cornabe dan dikirim ke Makassar. Pada Oktober armada penyerang dan penjarah yang sama sepertinya telah melanjutkan serangan penjarahan mereka ke arah selatan, ke daerah disekitar Pulau Kelang dan Manipa tempat 25 kapal armada penyerang dan penjarah dari Papua dan Tobelo,Tobaru dan Galela membakar habis empat desa.

Pada 1794 dua orang pria dari Sula bernama D**o dan Baya yang telah ditangkap dan ditahan oleh para penjarah selama 11 bulan melaporkan bahwa usai menyerang dan menjarah Buton, orang Galela dan Tobelo di atas 26 kora-kora tiba di Sulabesi, tempat mereka menangkap banyak orang. Para penjarah kemudian melanjutkan penjarahan hingga Ambalau dimana mereka menangkap selusin orang. Setelah itu, mereka mengarah kembali ke Waru tempat Pangeran Nuku menetap. Para korban yang melaporkan insiden-insiden ini berhasil melarikan diri setelah menemukan sebuah perahu yang mereka gunakan untuk berlayar ke Ambon. Orang Makian adalah sasaran kampanye Pangeran Nuku. Seorang pria dari Makian melapor kepada orang Belanda bahwa ia dan teman-temannya sedang berkerja dikebun di Pulau Gunaga ketika sekelompok besar orang Papua, Seram, Galela, Tobelo, Maba, Weda dan Patani mengepung mereka. Sekitar 70 orang tertangkap dan dibawa ke hadapan Pangeran Nuku di Waru. Disana, para tawanan dijual kepada orang Seram Timur seharga tujuh hingga 10 lembar kain putih dan biru per kepala. Selanjutnya mereka dijual ke Banda sebagai budak. Orang-orang Makian ini telah melakukan pelarian yang berani dari para penjarah dan bersembunyi di salah satu pulau di Kepulauan Papua. Disana, ia diselamatkan oleh Raja Bobo dan dikirim ke Obi. Dalam perjalanan, ia dikejar-kejar orang Alifuru tetapi berhasil melarikan diri ke dalam hutan dan akhirnya tiba di Obi.

Seorang Alifuru Ternate bernama Suwui yang tertangkap dan ditahan di Salawati melaporkan bahwa pasukan pemberontak berkekuatan hingga 100 kapal. Ia menyatakan anggota baru dari Galela, Ratu dan Use bergabung dengan para penjarah dari armada Papua Pro Nuku berkekuatan 53 kapal yang telah berkumpul di Waigama (Misool). Kopral Jacobus Laiso dan Burgher Lucas Johannes yang dikirim untuk mencari lokasi Benteng Inggris Coronation sebuah benteng kayu yang dibangun Kapten Inggris bernama Hayes di Dorei dipesisir utara daratan utama Papua pada 1793 diserang di Gebe oleh Tiga kora-kora Pangeran Nuku. Kembalinya Pangeran Zainal Abidin dari Sri Lanka pada 1794 berkontribusi pada peningkatan kemampuan tempur pasukan Nuku. Ketika para utusan Tidore bertemu dengannya di Salawati pada Mei, ia memimpin 25 kora-kora milik orang Papua, Seram Timur dan Makasasar. Orang Tobelo, Tobaru dan Galela kemungkinan sudah bergabung dengan armada Pangeran Zainal Abidin. Pada tahun tersebut orang Papua dan Gamrange (termasuk mereka yang berasal dari Gebe) dikabarkan menyerang dan menjarah sebuah desa di Ternate.

Pada tahun 1795 sejumlah orang Maba dan Weda yang sebelumnya berpaling dari Pangeran Nuku lansung berubah pikiran setelah mereka mendapati bahwa kapal-kapal Inggris membantu sang Pangeran. Mereka kembali bergabung bersama Pangeran Nuku dengan sepenuh hati. Ketika kapal-kapal Inggris, Resource dan Duke Of Clarence, terlihat menemani armada Pangeran Nuku, semua keraguan subjek Ternate di wilayah pinggiran segera sirna. Mereka lebih terkesan ketika utusan Pengeran Nuku berlayar menumpang sebuah kapal Inggris ke Benggala untuk meminta Gubernur Jenderal di Kolkata mengirimkan lebih banyak kapal guna mendukung pemberontakan. Pada Agustus 1795 Pangeran Nuku dan sekutu Inggrisnya pindah dari Waru ke Gebe. Mereka menetap disana selama sekitar satu bulan. Sekarang, sekutu Pangeran Nuku secara terbuka mengumumkan bahwa mereka tidak lagi takut terhadap VOC.

Mempertimbangkan bobot bukti, sepertinya serangan penjarahan adalah medium sermpurna persekutuan. Pihak pertama menawarkan kerjasama dalam memerangi musuh pihak kedua dan menjarah tanah atau pulau asing. Fakta di atas menunjukkan bahwa Gamrange kerap memaksa kelompok-kelompok lain untuk bergabung dalam aksi-aksi serangan penjarahan mereka. Kita dapat berspekulasi bahwa ikatan antara sekutu, walaupun hanya dapat ditemukan satu cerita, dibuat dan dipastikan melalui pertukaran hadiah dan bahkan pernikahan antara pria dan wanita dalam kelompok-kelompok yang terlibat. Kelompok-kelompok Halmahera Utara terutama Tobelo, Tobaru dan Galela pernah dikenal sebagai para Kesatria berani yang dapat diandalkan Sultan Ternate. Menikmati ketenaran haus darah, mereka dianggap aset bagi perjuangan Pangeran Nuku dan Para pemimpin Gamrange, didukung orang Seram Timur, berupaya memenangkan dukungan mereka. Persekutuan antara Pangeran Nuku dengan para penduduk Tobelo, Tobaru dan Galela belum pernah didengar sebelumnya. Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Maluku Utara memandangnya sebagai tanda kekuatan Pangeran Nuku. Mereka bergabung dalam pemberontakan saat Pangeran Nuku sangat membutuhkan sumber daya manusia untuk mempertahankan kampanye militernya ( Widjojo 2013:195-200).

Sekian ulasan sejarah tentang pengikut Pangeran Nuku dari Halmahera Utara di atas baik yang saya kutip dari sumber buku dan Internet semoga menambah khanzana pengetahuan serta bermanfaat terhadap pembaca untuk lebih mengenal sejarah Maluku Utara.

Meskipun ulasan sejarah di atas tidak sempurna dan masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan saya tentang disiplin ilmu sejarah serta referensi yang didapat. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya harapkan sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.

Selamat hari jadi kota Tidore ke-917 ❗️


Narasi oleh: Muhammad Diadi
📷 : Adrian Mantara

Mamuya, 12 April 2025.

Address

Jalan Sulawesi No. 24 Dok. 8, Cora-Kelurahan Imbi, Jayapura Utara
Jayapura
99116

Telephone

081247775332

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ngofa nyili papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share