06/07/2020
Kisah nyata 1:
Saya punya kenalan. Suatu hari dia nelpon dengan nada panik. Saya tanya kenapa? Katanya istrinya kecelakaan motor dan mengalami gegar otak berat. Saya tanya lagi, lho emang nggak pakai helm? Dia jawab, lha wong cuma ke warung di dekat rumah, cuma jarak 200 meter palingan...
Udah saya nggak nanya lagi... s**t happens. Ayo pakai helm biarpun hanya jarak dekat, karena maut lebih dekat setiap saat!
Kisah nyata 2:
Istri saya mendadak telepon, katanya urgent! Saya tanya kenapa? Dia bilang temannya kecelakaan motor di U-turn dekat rumahnya. Sekarang sebelah kakinya harus segera diamputasi! Saya tanya lagi, lho, emang kakinya kena apa? Kata istri saya, temennya mau ke toko nggak jauh dari rumah. Pas lagi u-turn, pantat motornya kesenggol motor lain sehingga dia jatuh dan pergelangan kakinya kejepit dek sepeda motornya sendiri. Dia nggak pakai sepatu ataupun helm.
Udah, saya nggak nanya lagi. Pakailah sepatu, helm dan pelindung diri lainnya ketika bersepedamotor, karena motor rodanya hanya dua dan mau senantiasa mengintai! Masih s**a motoran pakai sendal? Sayangi anggota tubuhmu dan keluargamu!
Kisah nyata 3:
Suatu hari saya mendapat kabar duka dari seorang sahabat. Istrinya meninggal dunia karena kecelakaan bersepeda motor. Sang sahabat sambil menangis berkisah, bahwa pada hari naas itu dia dan istrinya pergi ke pasar untuk membeli ikan. Dalam perjalanan kembali ke rumah, saat U-turn di depan mall Ambassador motornya tersenggol oleh sebuah mobil, dan sahabat saya serta istrinya terpental dari sepeda motor. Hanya terpental ringan, sahabat saya hanya lecet sedikit. Namun tubuh istrinya tidak merespon ketika dihampiri di dekat trotoar, dan dari mulutnya terlihat ada darah keluar. Helmnya tampak masih menempel di kepala. Sesampai di RS, sang istri dinyatakan sudah tiada. Hasil pemeriksaan menunjukkan memar pada bagian tengkuk istrinya yang diduga terbentur trotoar atau benda lain. Bagian tengkuk itu seharusnya cukup terlindungi oleh helm yang bagus, dan almarhum memakai helm yang memenuhi syarat. Kesalahannya, helm itu ternyata agak kebesaran dan tidak terikat dengan baik. Sahabat saya yg seorang pembalap dan pemerhati keselamatan berkendara pun tidak bisa berkata apa2 lagi sambil menyesali kepergian sang istri tercinta. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena memberikan istrinya helm yang tidak pas ukurannya dan tidak membantu memeriksa apakah helm sudah terikat dengan baik sebelum berkendara.
Pilih dan pakailah helm yang pas, nyaman dan memenuhi standar keselamatan. Dan jangan lupa, ikat helm dengan baik agar fungsi helm melindungi kepala dapat maksimal.
Kisah nyata 4:
Ketika itu perjalanan pulang dari sebuah acara komunitas di Lampung. Berangkat dari Lampung sudah siang, dan akhirnya memasuki wilayah Banten cukup kesorean. Beberapa teman memutuskan untuk mampir ke Anyer untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan balik ke Jakarta esok harinya. Saya sendiri memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena sudah ada janji di rumah esok paginya. Kamipun berpisah di sekitar Cilegon dan saya lanjut ngegas ke arah Jakarta. Dari siang sampai menjelang jam 5 sore panas banget dan saya terpaksa beberapa kali berhenti untuk minum dan istirahat sejenak. Selepas maghrib melanjutkan perjalanan ke Jakarta melewati daerah Tenjo. Jalanan lumayan kosong dan saya bisa melaju dengan kecepatan 60-80kpj. Kondisi gerimis dan jalanan hanya diterangi cahaya lampu yg juga mulai redup karena tertutup cipratan tanah. Sebetulnya saya sudah merasa agak cape dan menjadi agak tergesa. Persis sebelum pertigaan antara Tenjo dan arah BSD, ada sebuah tikungan halus berbentuk S, mirip chicane tapi smooth curve. Sebelum itu ada sebuah hump, dan seperti biasa Tracy tetap saya gas. Sehabis hump langsung masuk tikungan ke kanan, kemudian ke kiri, dan ke kanan lagi sebelum ke kiri lagi. Disitulah saya melihat jalanan penuh pasir, kerikil dan tanah liat basah, dan pastinya saya kaget sambil berusaha melakukan koreksi posisi sepeda motor yg sedang cornering di kecepatan sekitar 50-60kpj. Malang tak dapat ditolak, ternyata gaya sentrifugal dan gravitasi lebih kuat, dan saya merasakan badan saya yg besar ini terbang ke samping, jatuh ke jalan beton, terbang lagi, jatuh lagi dan terbang lagi sampai akhirnya berhenti dalam posisi tengkurap di atas rumput di pinggir jalan. Saya dalam posisi sadar, sepenuhnya sadar, badan saya tidak merasakan apakah ada bagian yg terasa sakit atau nyeri. Perlahan saya masih dalam posisi yg sama mencoba menggerakkan jari tangan, semua berfungsi! Pergelangan tangan, semua bisa berfungsi normal tanpa nyeri. Kemudian mencoba menggerakkan jari2 kaki dan pergelangan kaki, saya dapat rasakan semuanya dan tanpa nyeri. Dalam hati saya, alhamdulillah nggak ada yg patah! Sayup2 saya mendengar suara beberapa motor melintas dan kemudian berhenti dan langkah orang berlari menghampiri posisi saya. Di saat bersamaan saya mencoba untuk berdiri, dan alhamdulillah, ternyata saya bisa berdiri sendiri dan berjalan dengan baik. Orang2 pun mulai berdatangan, menanyakan apakah saya baik2 saja, dan membantu saya menegakkan Tracy yg dalam posisi jatuh sekitar 50 meter dari posisi saya. Tracy pun alhamdulillah aman, tidak ada kerusakan berarti. Dengan sedikit perbaikan cepat, seraya berucap terimakasih kepada warga yg telah membantu, sayapun melanjutkan perjalanan pulang. Setiba di rumah, ketika saya mulai melepaskan seluruh pelindung diri, mulai dari sepatu, celana riding, jaket riding, body protector, gloves, dan akhirnya helm, dan kemudian mandi, barulah saya mulai merasakan bbrp bagian tubuh terasa nyeri dan pegal2. Tidak ada satu bagianpun dari tubuh saya yang mengalami lecet ataupun luka, alhamdulillah.
Terlepas kehendak Tuhan, terbukti pelindung diri yang saya pakai melindungi diri saya secara maksimal. Helm saya, Nolan N44, akhirnya retak memanjang terbelah dengan sendirinya sekitar seminggu setelah crash itu. Memang helm yg sudah mengalami crash tidak disarankan untuk dipergunakan kembali. Sayangi dirimu, jika senang touring, jangan hanya sepeda motor yg diperhatikan, tapi juga perhatikan perlengkapan keselamatan diri kita! Motor rusak, hancur, bisa dibeli atau diganti. Anggota tubuh cacat dan atau terpaksa meninggalkan dunia lebih awal karena celaka ketika touring, penyesalan diri dan keluarga yg tidak tergantikan seumur hidup. Paling kalau bini kita masih cantik, dia kawin lagi sama orang lain, kalo dia mau lhooo... 🙂
Eh, banyak lho yg bela2in beli motor puluhan, ratusan juta, tapi beli pelindung diri rasanya berat beneeeer wkwkwkwkwk....
Ayo utamakan keselamatan! Nakal Boleh, Bego Jangan! ✌😊