30/06/2016
NAFIRI NUSANTARA AKAR BAMBU
Indonesia sedari dulu dikenal sebagai negara agraris, kaya sumberdaya alam. Pertanian telah menjadi tumpuan dan sumber kehidupan masyarakat. Dalam kesejarahannya, Indonesia menjadi Nusantara menjadi besar dan memiliki kekuatan karena kekayaan alam dan baharinya. Pertanian menjadi pondasi utama tegaknya Indonesia sejak dahulu hingga kini. Dalam percaturan geopolitik kekinian, nyatanya pertanian dan pangan tetap memegang peran penting. Pertanian dan pangan menjadi kekuatan baru sekaligus senjata yang dapat digunakan untuk mengendalikan, hingga menaklukan negara dan bangsa lain.
Indonesia dengan potensi pertaniannya dengan kekuatan manusia petaninya semestinya menjadi pemain besar, menjadi pemenang. Tak ada yang tak bisa ditanaman dinegeri ini, tak ada yang tak bisa dikreasi petani di bumi nusantara ini. catatan gemilang sebagai negara swasembada dan mendapat pengakuan dunia pernah diraih. Namun apa lacur, kekuatan itu nyatanya tak dirawat, tak dibesarkan tak dijadikan modal pembagunan bangsa. Pertanian sekedar ditempelkan, petani sekedar dilabelkan. Keduanya sekedar jadi pembenaran sudah melakukan pembangunan pertanian walau yang terjadi makin melemahkan pertanian itu sendiri. Pembangunan pertanian seolah dilakukan untuk kesejahteraan petani namun pada nyatanya sekedar menempatkannya menjadi alat produksi, hingga tak memiliki kemuliaan lagi sebagai seorang manusia merdeka, manusia berdaulat.
Pemerintah terus berganti, penguasa terus berubah. Namun nasib pertanian dan petani tetaplah sama. Sekedar pelengkap, bukan manjadi kesadaran utama. Tak mengehrankan jika kemudian lahan pertanian terus menyusut, jumlah petani yang terus menciut. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah petani mengalami penyusutan sebanyak lima juta rumah tangga petani. Usia petani pun sudah menua, sebanyak 60,8 persen berusia diatas 45 tahun dengan pendidikan hanya tingkat SD, dan kapasitas menerapkan teknologi baru yang rendah. Sementara proses regenerasi berjalan sangat lambat terutama pada sektor tanaman pangan. Generasi muda menjadikan sektor pertanian bukan sebagai pilihan dan lebih memilih bekerja di sektor industri.
Menjadi lebih berat ketika daulat petani menjadi lemah karena kuasa modal dan teknologi “orang seberang” telah menguasai sumber-sumber produksi yang didukung oleh kebijakan yang dilahirkan penguasa. Hancurnya daulat disektor pertanian menjadi potret kecil dari mulai terancamnya kesatuan persatuan serta kedaulatan negera. Di level bangsa, saat ini juga mulai terjadi degradasi nilia-nilai kebangsaan. Nilai-nilai persatuan, kebangsaan luntur, yang muncul justru semangat individualis, anarkis, nonhumanis yang pada gilirannya makin melemahkan negara ini. Kondisi itu muncul hampir di seluruh pelosok negeri. Mengkhawatirkan karena tak sesuai dengan cita-cita dan semangat salah satu pendiri bangsa yaitu Budi Oetomo. Cita-cita luhur Budi Utomo yang secara kontekstual adalah ingin meraih kemandirian, kesejahteraan dan kemerdekaan kaum tani.
Situasi ini tentu saja membahayakan. Membahayakan tak hanya bagi petani, pertanian namun bagi negara dan bangsa ini. hilangnya petani dan pertanian sejatinya kehilangan identitas sekaligus dignity bangsa. Jika itu terjadi maka bencana dan kiamat sudah nyata bagi kita. Tak bisa tidak segenap upaya dan kerja cerdas harus segera dimulai untuk mengembalikan nusantara yang mandiri, sejahtera dan merdeka. Nusantara yang menjadi penguasa dunia, nusantara yang makmur dan mulia karena pertaniannya.